Sosial
Beranda » Berita » Empat Tahun Pasca Gempa Bumi Lansia 70 Tahun Masih Bertahan Hidup Tinggal di Gubuk Reot Bersama Anaknya

Empat Tahun Pasca Gempa Bumi Lansia 70 Tahun Masih Bertahan Hidup Tinggal di Gubuk Reot Bersama Anaknya

Spread the love

Mamuju, Potretrakyat com; – Nenek berusia 70 tahun di Lingkungan Labuang, Kelurahan Sinyonyoi Selatan, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), tinggal di gubuk reot.

Kondisi nenek Nurjannah itu sangat memperihatinkan, gubuk yang ditinggalinya terbuat dari terpal dan beralas seadanya.

Nenek Nurjanah, tinggal bersama anaknya di dalam gubuk reyot selama empat tahun sejak rumahnya ambruk dihantam gempa bumi pada 15 Januari 2021 silam.

Sejak saat itu nenek ini harus membangun rumah yang terbuat dari terpal bekas dari pemberian warga sekitar. Ia memiliki anak laki-lakinya tinggal bersamanya di dalam gubuk.

Pantauan media, kondisi rumah Nurjannah cukup memperihatinkan karena hanya berdinding terpal dan kain sarung. Gubuk nenek ini tidak jauh dari Terminal Bandara Tampa Padang Mamuju.

IJS Majene Kembali Gelar Aksi Sosial Jumat Berkah

Tendanya sudah banyak yang bolong sehingga saat angin kencang dan hujan deras gubuk ini digenangi air.

Di dalam gubuk yang sempit ini hanya terdapat tumpukan kain, bantal dan kasur yang sudah kusam. Sangat tidak layak untuk dihuni oleh manusia.

Nenek Nurjannah juga tidak memiliki kelambu, sehingga tidur dirinya harus menahan gigitan nyamuk.

Karena gubuknya kecil, Nenek Nurjannah membuat dapur di depan gubuknya tempat untuk ia memasak.

Mengawali Pelaksanaan Program MBG, SPPG Campaloga Gelar Sosialisasi Pengenalan Program

“Iya sudah lama tinggal disini sudah empat tahun, pas kejadian gempa rumah saya rusak (rata dengan tanah). Jadi saya dibuatkan tenda (gubuk),” kata Nenek Nurjannah.

Ia mengaku, selama tinggal di gubuk Nurjannah memang kerap dikunjungi oleh pihak yang mengaku dari pemerintah, namun kata dia mereka hanya datang mengambil foto (gambar) lalu pergi.

Kata dia, mereka yang datang sebelumnya berkunjung ke gubuk reyot miliknya itu tidak pernah lagi kembali setelah menjanjikan bantuan.

“Ada datang sesekali (memberi sembako) lalu foto dan mereka pergi. Hanya dijanji saja,” ungkapnya.

Sehari-hari Nenek Nurjannah pergi mencari kapuk (kapas) untuk dibuat bantal lalu dijual, itu pun dengan usia yang sudah renta dirinya kini tidak kuat lagi.

IJS Majene Kembali Berbagi Takjil Jumat Berkah Bagi Masyarakat

Ia juga mengharap hasil dari anak laki-lakinya yang setiap hari berprofesi sebagai tukang ojek.

“Ya kalau ada lagi hasil ojeknya anakku itu lagi dipakai beli beras,” kata Nurjannah.

Sementara itu mantan Kepala Lingkungan Labuang Darling mengatakan, waktu gempa 2021 lalu rumah nenek Nurjannah roboh atau rata dengan tanah sehingga dia sudah sekitar empat tahun tinggal di gubuk seperti ini.

“Sudah lama seperti ini kasian, pernah ada datang dari Dinas Sosial (Dinsos) sudah di foto juga waktu itu dan mereka berjanji mau bantu. Tapi sampai sekarang belum ada datang,” pungkasnya.

Bahkan Darling juga sempat melaporkan warganya itu ke pemerintah setempat (Kelurahan) namun tidak ada respon.

Ia berharap, pemerintah daerah bisa membuka mata melihat kondisi rakyat yang saat ini menjerit atau menderita karena rumah dihuni sangat jauh dari kata layak.

Bukan hanya tempat tinggal, makan sehari-hari pun Nenek Nurjannah sangat sulit karena harus mencari kapuk dulu.

 

Sumber: Man
Editor: Judistira

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *