Mamuju, Potretrakyat com; – Berawal dari rasa peduli terhadap isu diskriminasi yang terjadi kepada para mantan narapidana (napi) perempuan atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Achmad Nur pria 26 tahun ini merasa terketuk hath nuraninya untuk melakukan suatu hal positif bagi para mantan napi itu.
Ternyata, iskriminasi itu benar-benar terjadi. Para mantan napi tak hanya mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan sebagai sumber nafkah sehar-hari, melainkan juga diasingkan oleh keluarganya sendiri. Bisa dibayangkan betapa sulitnya mereka harus bertahan hidup dalam kondisi seperti itu.
Bahkan dari penuturan Achmad, ada napi yang lebih memilih untuk tetap berada di Lapas ketimbang kembali ke tengah masyarakat, lantaran sudah tidak ada keluarga yang mau menerimanya lagi, sedangkan dilain sisi ia harus tetap hidup.
Achmad Nur bersama beberapa rekannya mencoba berinovasi dengan membangun satu Komunitas yang dinamai Garis Hitam Project (GHP). Dimana komunitas ini memiliki tujuan memperjuangkan nasib Narapidana atau Mantan Narapida Perempuan untuk mendapatkan hak-hak kesetaraannya kembali.
Dengan cara adalah membangun model bisnis sosial (sosialpreneur) yang memberdayakan Para Napi Perempuan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas III Mamuju, Sulawesi Barat.
Program GHP ini memberikan pelatihan kewirausahaan bagi Para Napi dan Mantan Napi Perempuan di Lapas.
“Garis Hitam Project ini awalnya terbentuk sebagai komunitas sosial biasa pada tahun 2019. Lalu menyelenggarakan Festival Inklusi yang berkolaborasi dengan 15 komunitas sosial lainnya pada tanggal 14 Februari 2020. Kemudian kami sepakat membentuk badan hukum pada akhir tahun 2021. Fokus utamanya sosialpreneur pemberdayaan narapidana dan mantan narapidana perempuan di LPP Kelas III Mamuju, Sulawesi Barat,” kata Achmad. Rabu, (13/9/2023).
Para Napi membuat kerajinan tangan (hand made) berupa bosara (penutup makanan tradisional), roti, tas anyaman, gantungan kunci dan lainnya. Sedangkan Mantan Napi yang sudah berada di luar lapas diberikan pelatihan untuk memproduksi totebag dengan packing dari anyaman daun kelapa.
Semua hasil produk karya binaan GHP di Lapas ini kemudian dipasarkan di event bazar, pameran, media sosial Instagram @garishitamproject & @ghmerchendise, atau sistem pre-order terutama untuk produk-produk tertentu yang dibuat di dalam Lapas.
Sebagai inisiator event Festival Inklusi 2020, GHP berhasil menghadirkan 117 siswa siswi sebagai bagian kampanye membangun lingkungan yang inklusif.
Achmad Nur bercerita pada awalnya para pengurus GHP menganggap para napi itu orang-orang yang bercitra buruk, seram, tidak ramah dan berbagai stigma negatif lainnya, seperti apa yang ditampilkan di media-media. Namun, setelah mengenal mereka lebih dekat, ternyata tidak seperti itu. Mereka melakukan kejahatan karena himpitan ekonomi dan kondisi sosial lainnya.
“Fokus kami adalah pemberdayaan napi dan mantan napi perempuan. Karena faktanya cenderung lebih sulit diterima kembali di keluarga, masyarakat, maupun mencari pekerjaan,” ungkapnya.
Achmad Nur memiliki satu impian besar melalui Garis Hitam Project, dimana ia berharap menjadi wadah bagi napi dan mantan napi perempuan agar bisa mendapatkan pelatihan kerja serta mudah di terima kembali di tengah masyarakat.
Visi kesetaraan bagi napi perempuan melalui metode sosialpreneur Garis Hitam Project ini sejalan dengan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Astra Internasional yang terus mengajak generasi muda untuk selalu semangat bergerak dan tumbuh bersama.
Melalui program Satu Indonesia Awards (SIA) Tahun 2021, sosok Achmad Nur dengan Garis Hitam Project mendapatkan apresiasi tingkat Provinsi Sulawesi Barat.
Tidak hanya itu, GHP juga menyalurkan paket sembako dari Astra Internasional kepada 50 KK Narapidana dan Mantan Narapidana Perempuan dengan nilai total Rp. 9.575.000.
Dukungan terus mengalir dari Pemerintah Kabupaten Mamuju dan Gubernur Sulawesi Barat, serta BUMN. GHP mendapatkan bantuan berupa alat-alat produksi pembuat roti, pemanggang roti, serta mesin jahit dari para stakeholder tersebut.
Bahkan Agen Tourism dari USA Radiant Life juga bermitra dengan GHP. Mereka pernah mengirimkan utusan mahasiswa pascasarjana dari USA untuk berinteraksi langsung dengan warga binaan di LPP Kelas III Mamuju, Sulawesi Barat.
Dari Komunitas Garis Hitam Project yang dibangun Achmad Nur ini, generasi muda bisa banyak belajar bagaimana caranya memanusiakan manusia. Memaafkan mereka, menerima mereka, serta merangkul kembali mereka dengan uluran tangan untuk kembali menjalani hidup dengan normal.
Sumber: Judistira
Editor: Radaksi


Komentar