Advertorial Nasional Pemerintahan Sulawesi
Beranda » Berita » Hasto Wardoyo Buka Secara Resmi Peningkatan Kapasitas Pengelola Program Bangga Kencana Mitra Kerja BKKbN Sulbar

Hasto Wardoyo Buka Secara Resmi Peningkatan Kapasitas Pengelola Program Bangga Kencana Mitra Kerja BKKbN Sulbar

Spread the love

Makassar (Sulsel), Potretrakyat.com; – Kepala BKKBN RI, dr. Hasto Wardoyo secara resmi membuka kegiatan peningkatan kapasitas pengelola program Bangga Kencana bersama mitra kerja dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting di Ballroom Phinisi Claro Hotel Makassar. Senin, (18/12/2023) malam.

 

Turut hadir, Wakil Bupati se-Sulbar selaku Ketua TPPS Kabupaten; Direktur Bina Penggerakan Lini Lapangan BKKBN RI, I Made Yudhistira Dwipayama; Kepala BKKBN Sulsel, Shodiqin; Kepala BKKBN DIY, Andi Ritamariani; Kepala BKKBN Maluku Utara, Nuryamin; Ketua Umum DPP IPeKB Indonesia, Anita Latifah.

 

Selain itu, Sekretaris BKKBN Sulsel, Faizal Fahmi; Sekjend DPP IPeKB Indonesia; Ketua DPD IPeKB Indonesia Sulbar; Ketua DPD IPeKB Indonesia Sulsel; Ketua PJK Sulbar, Hj. Rostiawaty Arhus; Ketua PJK Sulsel, H. Abdullah Kemma dan undangan lainnya.

90 Persen ASN Pasangkayu Masuk di Hari Pertama Kerja Pasca Libur

Kepala BKKBN Sulbar, Rezky Murwanto mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Tenaga lini lapangan dan OPD KB serta Mitra dalam melaksanakan program Bangga Kencana dan Percepatan penurunan Stunting Tahun 2023.

 

“Kegiatan ini sekaligus mempersiapkan diri kita untuk menyongsong tahun 2024 serta memberikan wawasan bagi para peserta agar dapat berkolaborasi menyukseskan program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting di Sulbar,” ujarnya.

 

Dari Beras hingga Kapal Cepat, Sulbar dan Kaltim Bangun Sinergi Ekonomi Antar Wilayah

Reski berharap, setiap PKB PNS dan PPPK memiliki pemahaman mendalam terhadap profil desa binaannya, termasuk data calon pengantin, jumlah PUS, ibu hamil, ibu pascasalin dan balita.

 

“Salah satu cara mencegah lahirnya stunting baru dengan menjaga jarak kehamilan penduduk. Sehingga tiap bulannya hanya terdapat rata-rata 8 kelahiran per desa, sesuai data proyeksi keluarga di Sulawesi Barat. Kondisi ini diharapkan dapat menciptakan desa-desa bebas stunting baru di Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2024,” ujarnya.

 

Saat menyampaikan sambutan, Hasto Wardoyo mengatakan bahwa salahsatu yang harus dilakukan untuk menurunkan angka stunting adalah membangun komitmen.

Dari Rp300 Juta ke Rp11 Miliar, Strategi PAP Sulbar Menarik Perhatian Kaltim

 

“Saya melihat komitmen Pj. Gubernur Sulbar sangat bagus dan sangat tinggi. Ia menggerakkan PNS nya untuk menjadi Bapak Asuh Anak Stunting. Sehingga stunting bisa diperhatikan oleh semua pihak,” ujarnya.

 

Usaha kedua, lanjut Hasto, kita harus melakukan edukasi massif melalui media, supaya semua masyarakat faham tentang apa itu stunting, bagaimana cara penangaanannya, dan apa bahayanya stunting.

 

“Usaha ketiga, kita harus konvergen, semua pihak harus mengeroyok dan mengarah kepada stunting. Misalnya, PKH dari Kementerian Sosial, dibagikan kepada orang tidak mampu sekaligus yang terkena stunting. Seperti Kementerian PUPR membangun jamban dan rumah tidak layak huni diperbaiki. Hal ini juga berdampak pada penurunan stunting,” ujarnya.

 

Keempat ketersediaan makanan bagi masyarakat harus dilakukan. Jangan sampai ada desa rawan pangan sehingga operasi pangan oleh badan pangan nasional harus terus dilakukan untuk memastikan pasokan terjaga.

“Kelima, pendataan harus bagus karena bagaimana mau melakukan treatmen jika data yang dimiliki tidak akurat. Seperti penimbangan bayi harus mencapai 90 persen. Jadi lima hal inilah yang harus kita lakukan,” ujarnya.

 

Selain itu, lanjut Hasto, mental health. Oleh sebab itu, saya katakan bangunlah jiwanya, bangunlah raganya. Jika raga itu sukses, maka jiwanya jangan dilupakan.

 

“Ada anak-anak sejak lahir pertumbuhan fisiknya bagus dan tidak stunting, tapi jiwanya belum tentu sehat. Dan akhir-akhir ini, mental disorder adalah gangguan jiwa sebenarnya. Hanya saja mental disorder itu gangguan jiwa ringan,” tambahnya.

 

Menurut riset kesehatan dasar Tahun 2013, dari 100 remaja, 6,1 persennya memiliki potensi ODGJ. Saat ini dari 100 orang remaja 9,8 persennya memiliki bakat ODGJ. Berarti trend terjadinya ODGJ terus meningkat.

 

ODGJ tahun 2013 diangka 1,7 per 1000 orang. Sekarang naik menjadi 7 per 1000 orang. Kenaikan ini sangat pesat.

 

“Bahayanya apa? Pertama, narkotika semakin meningkat dikarenakan semakin banyak ora

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *