PASANGKAYU, Potretrakyatcom – PT Mamuang melakukan monitoring dan pendampingan program produksi pupuk kompos berbahan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) di Rumah Kompos Desa Pajalele, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.
Monitoring tersebut dilakukan untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat pengembangan program pengelolaan limbah sawit yang dikelola masyarakat.
Sebelumnya, PT Mamuang memberikan dukungan berupa mesin pencacah dan pasokan TKKS untuk meningkatkan kapasitas produksi kelompok Rumah Kompos Pajalele.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau langsung seluruh tahapan produksi pupuk kompos, mulai dari pencacahan TKKS, pencampuran bahan, fermentasi, hingga proses persiapan pupuk sebelum dipasarkan kepada masyarakat.
Program komposting di Desa Pajalele merupakan hasil kolaborasi PT Mamuang, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mengolah limbah perkebunan kelapa sawit menjadi pupuk organik.
Program tersebut juga menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah menjadi produk memiliki nilai tambah.
Penyuluh Lingkungan, Yonatan, mengapresiasi pendampingan yang diberikan PT Mamuang kepada kelompok Rumah Kompos Pajalele.
Menurutnya, bantuan mesin pencacah maupun pasokan TKKS sangat membantu meningkatkan efektivitas produksi.
“Kami berharap sinergi ini terus berlanjut sehingga pengelolaan limbah sawit dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan,” tutur Yonatan.
Kepala Desa Pajalele, Yusman, menilai keberadaan Rumah Kompos memberikan dampak positif terhadap pemberdayaan masyarakat.
“Kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat telah mendorong lahirnya kegiatan produktif, sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan desa,” terangnya.
Senada Ketua Kelompok Rumah Kompos Pajalele, Kahar, mengatakan dukungan berupa mesin pencacah dan pasokan TKKS membantu kelompok meningkatkan kapasitas produksi.
“Kami berkomitmen menjaga kepercayaan ini dengan terus menghasilkan pupuk kompos berkualitas sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak petani,” katanya.
Manajemen PT Mamuang, Susila Darmawati, mengatakan perkembangan kelompok Rumah Kompos Pajalele menunjukkan hasil positif.
“Pengelolaan limbah sawit dapat terus dikembangkan agar memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat, dan melihat perkembangan kelompok ini sangat positif,” kata Susila dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Ke depan, Susila mendorong agar lokasi produksi dapat diperluas dengan memanfaatkan batako yang dibuat dari campuran abu boiler pabrik kelapa sawit sebagai material pendukung.
Ia berharap kawasan tersebut tidak hanya menjadi rumah kompos, tetapi juga dapat berkembang menjadi contoh pengelolaan berbagai jenis limbah sawit menjadi produk bernilai ekonomi.
“Dengan demikian, kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai rumah kompos, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana berbagai limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
PT Mamuang berharap Rumah Kompos Pajalele dapat terus berkembang sebagai pusat pengelolaan limbah sawit berbasis masyarakat.
Pengembangan program tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. (*)


Komentar